Ketika Keaslian Seorang Pahlawan dipertanyakan??

15 08 2008

berita yang gw baca dari detik.com

Yogyakarta – Andaryoko Wisnu Prabu, pria yang mengaku sebagai Supriyadi, juga mengklaim selalu hadir dalam peristiwa bersejarah RI. Mulai penyiapan naskah proklamasi, pembacaan teks proklamasi, hingga penandatanganan Surat Perintah 11 Maret 1966.

Hal tersebut tertuang dalam buku bertajuk ‘Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno’ yang
ditulis oleh sejarawan Baskara T Wardaya SJ terbitan Galangpress 2008.

Dalam buku itu, Andaryoko menceritakan kisah pelariannya dari kejaran tentara Jepang pascapemberontakan PETA di Blitar, 14 Februari 1945. Dia berhasil lolos dengan bersembunyi di gua-gua dan hutan belantara di Jawa Timur. Sampai akhirnya dia memutuskan pergi ke Jakarta untuk bertemu Bung Karno setelah melakukan tapa brata di hutan.

Untuk sampai ke Jakarta pada Mei 1945, dia harus menempuh perjalanan berhari-hari. Dari Ngawi Jawa Timur menuju Solo, kemudian dilanjutkan ke Salatiga hingga Semarang. Dari Semarang setelah beristirahat di rumah orangtuanya, Andaryoko kemudian pergi ke Jakarta menggunakan kereta api.

Selama beberapa hari di Jakarta, Andaryoko sempat bertemu dengan Bung Karno di rumahnya di Pegangsaan Timur No 56. Dia juga sempat berada di Gedung Joeang, Jl Menteng Raya untuk bergabung dengan para pejuang lainnya. Bahkan sempat menghadiri rapat-rapat BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Saat bertemu Bung Karno di rumahnya, dia sempat tak percaya. Bung Karno menatap dan melihat Andaryoko dengan tajam dan menanyainya. Dan setelah Andaryoko menjelaskan siapa dirinya, Bung Karno percaya dan mengajaknya berbicara di ruang belakang. Dia bahkan diminta tidur di rumah Bung Karno. Setelah itu dia kembali ke Semarang untuk menemui Wakil Residen Semarang, Mr Wongsonegoro untuk menyampaikan pesan Bung Karno kepadanya.

Menjelang kemerdekaan RI tepatnya 16 Agustus 1945, Andaryoko sudah berada di Jakarta lagi bergabung dengan pemuda-pemuda Indonesia. Dia juga menyaksikan para pemuda seperti Sukarni, Wikana yang mendesak Bung Karno agar segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Versi Andaryoko, para pemuda itu bukan menculik Bung Karno dan Hatta menuju Rengkasdengklok, namun untuk diajak berunding.

Dalam penyusunan naskah proklamasi hingga pengibaran bendera merah putih, Andaryoko juga ikut menyaksikan peristiwa penting Indonesia 63 tahun yang lalu. Naskah teks proklamasi yang sempat diremas-remas hingga kumal dan dibuang ke tempat sampah itu juga dilihat oleh Andaryoko.

Ketika bendera merah putih dikibarkan, Andaryoko mengaku ikut mengibarkannya. Dia mengaku orang yang bercelana pendek membelakangi kamera adalah dirinya, bukan Ilyas Karim. Sementara itu dibuku -buku sejarah diterangkan pengibar bendera merah putih itu adalah Shudanco Singgih dan Latief Hendraningrat.

Setelah itu, Andaryoko kembali ke Semarang, namun sesekali pergi ke Jakarta untuk bertemu Bung Karno. Selama di Semarang, dia juga sempat ikut peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang pada tanggal 14-18 Oktober 1945.

Pasca kemerdekaan, hampir semua peristiwa yang berkaitan dengan Bung Karno, Andaryoko selalu hadir. Namun Andaryoko tidak banyak cerita soal hijrahnya Bung Karno ke Yogyakarta karena kepindahan ibukota RI. Padahal Bung Karno tinggal di Gedung Agung Yogyakarta selama lebih kurang 3 tahun, yakni tahun 1946-1949.

Peristiwa penting lain yang diceritakan Andaryoko adalah peristiwa Istana Negara dikepung tank dan tentara, yakni peristiwa 17 Oktober 1952. Saat peristiwa itu terjadi, dia sudah resmi menggunakan nama Andaryoko.

Menurut Andaryoko hubungan antara Bung Karno dengan dirinya bersifat pribadi. Dia pun diangkat sebagai  Pembantu Utama. Jabatan itu tidak diketahui umum, tapi di bawah tanggungjawab langsung presiden, bukan di bawah kementerian.

Tugas pembantu utama, kata dia, adalah memberitahu presiden bila ada peristiwa, gerakan politik, militer atau gerakan yang membahayakan keselamatan presiden. Namun dalam buku itu, Andaryoko tidak bertutur soal peristiwa Cikini, yakni saat Bung Karno hendak dibunuh dengan lemparan granat di SD Cikini Jakarta.

Demikian pula dengan peristiwa Trikora (Tri KOmando Rakyat) di Alun Alun Utara Yogyakarta ketika Bung Karno menggelorakan perjuangan untuk membebaskan Papua/Irian.

Sedang cerita mengenai kisah percintaan Bung Karno misalnya dengan Hartini ataupun Ratna Sari Dewi, Andaryoko masih bisa bercerita.

Di akhir buku itu, dikisahkan peristiwa lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966 di Istana Bogor. Andaryoko mengaku ikut menyaksikan ketika tiga perwira tinggi TNI AD, yakni Basoeki Rachmat, M. Yusuf dan Amir Machmud mendatangi Sukarno untuk menandatangani surat perintah untuk memberikan kekuasaan kepada Seoharto.

yang sekarang yang terpenting buat bangsa kita bukankah mencari kebenaran tentang sejarah bangsa kita sendiri..


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: